Senin, 12 Juni 2017

OLEH-OLEH yang KHAS "KATANYA"



Pict.from www.liputan6.com

Belakangan ini marak sekali artis-artis yang mencoba peruntungan dalam bisnis kuliner dengan label "Oleh-oleh Khas, Oleh-oleh Kekinian, Oleh-oleh Asli" kota mana. Bukan cuma di satu kota, nyatanya mereka berlomba-lomba membuat usaha tersebut di berbagai kota di Indonesia. Seolah ingin memonopoli satu kota dengan label ke khas-an produknya, termasuk di kota saya Cirebon.

Tapi apa produk yang diperdagangkan adalah benar-benar sesuatu yang khas atau asli dari kota asal yang di claim? 

Sedikit cerita. Awalnya waktu saya cek di instagram about cirebon, saya lihat tuh semacam iklan promosi bahwa salah satu artis kenamaan I*ndr B*kti bakal buka usaha "Oleh-oleh" di kota Cirebon. Dari awal baca saya agak skeptis (maklum, saya anaknya nethink an) ini artis orang mana sih? Kok buka usahanya di sini? Emang orang Cirebon? Mau jualan apa oleh-oleh Cirebon kan gitu-gitu aja, gak mungkin artis mau rugi? Tapi saya juga mikir gini ; ya gak apa lah namanya usaha dimana aja juga boleh siapa tau bisa ngangkat sektor ekonomi kota kan lumayan. Pikir saya gitu. Itu sebelum saya tau produk apa yang diperjual belikan serta fakta-fakta mengejutkan lain yang belakangan baru saya ketahui. 

Jadi apa produk yang dijual? It’s a cake. Kudapan manis yang biasa dimakan saat santai bersama teh atau kopi katakanlah salah satu dessert. Dan cake seperti apa? Yang saya liat ini gak ada Cirebon nya sama sekali. Gak ada unsur khas Cirebon di dalamnya. Cake nya berbentuk selayaknya sponge cake biasa yang dilayer dengan puff pastry dan filling whipp cream atau isian lain dengan berbagai varian rasa. Kalau mau lebih tau bisa browsing, ini salah satu jenis cake yang terkenal di negara luar sana. Bukan khas Indonesia apalagi khas Cirebon. 

Bisa cek kesini,


French Napoleon Cake

Seketika bakat nethink saya membabi buta. Rasanya panas ada yang menyebut makanan yang bahkan bukan khas negara ini apalagi kota ini disebut "oleh-oleh khas atau asli" ditambah mengkomersialkan status entertain yang dikenal banyak orang seantero Negeri demi mendapatkan keuntungan.

Lebih kaget lagi saya ketika setelah artis IB tersebut ada lagi newcomer artis yang membuka gerai oleh-oleh yang katanya khas tersebut di kota saya ini. Kirain produknya beneran oleh-oleh karena banyak motif mega mendung di iklan-iklan yang dipajang ternyata produknya sama. S-A-M-A

Russian Strudel Cake

Yang membedakan hanya presentasinya saja. Yang satu base cakenya berada di tengah dengan dibalut puff pastry diluarnya sedang yang satunya menempatkan puff pastry ditengah-tengah antara base cake.  

Tidak sampai disitu kekagetan saya masih berlanjut ketika tau di kota-kota lain sudah lebih dulu di "gauli" dengan jenis usaha kuliner yang sama, of course yang punya artis juga. Contoh, di Bandung, ada Bandung Makuta, di Bogor ada Bogor Raincake, lalu ada Medan Napoleon, Malang Strudle dll. Let me think, memang ada oleh-oleh khas Bandung namanya Makuta? Kira-kira itu yang saya pikirkan. 

Beberapa kali saya cek akun sosial media produk-produk tersebut, sekedar memastikan dan supaya saya tidak begitu suudzon dengan usaha yang sebenarnya sah-sah saja. Beberapa ada yang mencantumkan produknya merupakan oleh-oleh khas miliknya tanpa menuliskan oleh-oleh khas kota anu, beberapa menuliskan oleh-oleh asli dari mana, beberapa juga menuliskan oleh-oleh kekinian kota anu. Tetap saja ini aneh buat saya. 

Para artis ini seolah latah. Gak masalah mereka buat usaha yang sama pun bahkan dengan merk sama atau seolah membuat dinasti; semua keluarga dari suami, istri, menantu, kakek, nenek bikin usaha sama diberbagai kota. Tapi kenapa harus "Oleh-oleh Khas", khas daerah mana? Khas para artis? Mungkin iya.

"Asli" (?)

Biarin aja saya dibilang norak, kuno atau apalah. Salah satu teman saya pernah berkomentar kalau cara pikir saya aja yang kuno. Gak bisa mengikuti perkembangan jaman, harusnya saya seneng soalnya dunia peroleh-olehan di Indonesia jadi makin maju dan modern. Modern dari mananya ya? Bukannya ke khas an adalah ciri tersendiri yang memiliki sejarah panjang sejak dulu dan diakui menjadi warisan budaya? Modern dengan tradisional itu beda. Yang kepalanya soak siapa gitu ya, saya jadi bingung. Kenapa saya menantang hal tersebut begitu keras? Karena mereka menuliskan dalam Merknya bahwa produk mereka adalah "Khas" kota anu. Ya ini adalah soal Branding.

Ok, beberapa memang tidak meng-claim bahwa produknya merupakan oleh-oleh khas. Tapi coba kita kembali perfikir. Saat pertama kali kita memikirkan tentang kata "oleh-oleh" apa yang terpikir? Saat kita pergi ke suatu kota lalu saudara-saudara kita minta dibelikan oleh-oleh, apa saja yang pertama kali terpikirkan? Kalau bukan makanan khas, biasanya hasil kerajinan atau sektor industri yang menjadi ciri kota tersebut. Contohnya seperti pakaian mungkin yang bercirikan ke khas-an suatu daerah, atau gantungan kunci, dsb. Semua memiliki unsur ciri khasnya. Bagaimana dengan cake para artis ini? 

Coba kita tengok bisnis kuliner yang sejenis. Contoh Brownies Amanda. Produknya adalah brownies, sejenis cake coklat but more deep terkesan agak pahit. Sampai sekarang brand ini masih tetap bertahan bahkan dengan memiliki reputasi yang bagus dan memiliki banyak cabang di berbagai kota di Indonesia tanpa ada embel-embel "Khas Cirebon", "Khas Bandung", "Khas Bogor", dst. Dia cuma pakai nama Produk plus nama ‘’Amanda’’ entah itu nama ownernya, pacarnya, ibunya, keluarganya, atau mantannya. 

Jika saja para artis yang bernaung dalam satu corporasi sedikit kreatif dan tidak mengkomersialisasikan nama kota untuk sebuah produk, bisa saja mereka membuat nama branding nya tanpa membubuhkan nama kota di awal produknya. Kalau memang produk yang dijual memiliki hampir 90% kesamaan dan tersebar diberbagai kota di Indonesia, sama artinya bahwa corporasi A memiliki beberapa cabang toko. Hanya saja tiap toko di kota yang berbeda di gawangi salah satu artis kenamaan. Betul tidak? Lalu kenapa tidak membuat branding seperti; Napoleon Cake by Indra, Nepoleon Cake by Zaskia, Napoleon Cake by Bella, toh produknya mirip.  Ini aneh.. semudah ini bahkan bisa terpikirkan oleh saya (maaf sok pinter). Sepertinya memang sengaja disetting seperti itu, sebut saja namanya strategi marketing. 

Cake artis yang 90% Produknya sama

Sama halnya seperti toko Brownies Amanda yang saya sebutkan, bahkan di Cirebon sendiri gerai cabangnya ada banyak. Mungkin 2 atau lebih, itu hanya di wilayah kota. Belum lagi wilayah kabupaten. Tapi apakah toko brownies ini ber-label kan “Oleh-oleh khas”? atau mengkomersialkan nama kota tertentu? tidak bukan. Pemiliknya pun entah artis atau bukan, tanpa menjual nama beken asalkan kualitas produknya baik dan stabil buktinya toko brownies ini masih tetap eksis. 

Contoh lain, toko cake and bakery BreadTalk, J.Co, Dunkin, dll. Saya jadi bertanya-tanya, mencoba mengingat dan mencari tau apa kira-kira ada unsur khas daerahnya dari produk-produk para artis itu? Tapi sampai sekarang masih belum menemukan juga sebelah mananya yang khas. *mungkin dus box nya atau iklan di IG nya yang suka bawa-bawa vocabulary dari bahasa Cerbon? Hmm..

Masalahnya disini adalah masyarakat mudah sekali terpengaruh dengan hal baru termasuk dalam hal yang sedang saya bicarakan ini. Seperti belum "Qeqinian" kalau belum mencoba. Memang tidak salah membeli dan mencoba tapi apa mereka tidak berfikir ada yang aneh dan mengganjal? 

Sejujurnya saya sangat sedih saat melihat banyak orang seperti gila mengantri demi mendapatkan dan mencoba cake artis yang katanya enak, mirip antrian cakenya makuta di Bandung yang dari subuh udah ada yang antri padahal bukanya gak jam segitu. 

Yah gak papa sih. Gak masalah. Hak masing-masing. Toh mereka punya duit. Hanya saja mereka pun jadi secara tidak langsung ikut mempromosikan produk oleh-oleh bohongan yang dijual para artis. Kok bisa? Iya bisa. Metode promosi produk tersebut adalah via media sosial. Siapa yang gak punya medsos hari gini? Anak SD kelas 1 aja udah bisa live instagraman. Dengan metode ini, promosi bisa tersebar sangat cepat hanya dalam hitungan detik. Satu orang follow akun resmi IG bisnis oleh-oleh tersebut. Karena ngiler liat foto produknya akhirnya nge tag temennya. Teman yang di tag, nge tag juga ke pacarnya. Terus seperti itu. Bayangkan saja dalam sehari bisa berapa juta masyarakat Cirebon yang melihat iklan promosi produk oleh-oleh tersebut. See, logic kan? 

*bahkan ada juga akun IG yang menawarkan jasa titip beli Cirebon Sultana atau Cirebon Kelana biar ga usah mereka yang antri capek-capek. 

Saya sempat gak paham kenapa masyarakat bahkan mungkin teman-teman yang saya kenal gak notice ini kurang beres. Malah mereka santai dan serasa bangga aja gitu uploud produk tersebut sambil nulis caption "Oleh-Oleh Khas Cirebon". Once again, mungkin biar Qeqinian. 

Saya bukannya melarang yang lain beli produk mereka. Bukan. Sekali lagi saya tekankan. Saya tidak bermaksud melarang dalam hal ini. Hanya saja perasaan saya semacam kecewa. Ini curhatan saya loh. Kan katanya daripada dipendam mending dikeluarkan saja nanti jadi penyakit, ya udah saya coba tuangkan lewat tulisan. 

Saya hanya berharap masyarakat modern sekarang cerdas. Iya cerdas. Kalau suatu saat nanti makanan khas kita hilang digantikan oleh cake-cake para artis tersebut apa baru kalian bereaksi dan melakukan aksi boikot? Bagaimana nasib usaha oleh-oleh yang benar-benar khas dari daerah asal kita jika mereka merugi karena kebanyakan konsumen lebih mengenal cake para artis? Inipun menjadi tantangan tersendiri bagi pebisnis oleh-oleh yang lain. 

Saya tidak bisa membantu apa-apa kecuali berusaha melestarikan budaya yang dimiliki kota asal saya. Karena saya bukan pedagang oleh-oleh khas Cirebon jadi cara yang saya tau hanya untuk tidak membeli produk tersebut (lah wong oleh-oleh asli Cirebon aja saya jarang beli kok, hehe). Ini adalah bentuk protes saya terhadap penodaan ke khas an kuliner kota saya. 

Kecuali mereka mau mengganti nama brandnya tanpa perlu membubuhkan nama kota, selain itu perjelas juga produk apa yang dijual. Kalaupun tidak menjelaskan produk apa yang dijual sekali lagi cukup beri nama Brand nya saja. Contoh ; Kelana Cake by Ussy, Sultana Cake by Indra. Kan lebih adem saya (pribadi) bacanya. Tidak juga menimbulkan keambiguan bagi pembacanya. Mau beli oleh-oleh Cirebon pas datang ke outletnya yang ada cuma cake doang. 

Lalu suatu saat nanti saya punya anak dan tinggal jauh dari kota asal saya, ketika pulang kampung nanti anak saya bakal nanya "Mah, oleh-oleh khas Cirebon apa?", "Oh, itu ada Cirebon Sultana, Kelana, atau Cinnamon nak."

Apa kabar tahu gejrot, terasi, kerupuk kulit, kerupuk melarat dan kawan-kawannya?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar